Nilai atau Ilmu?
Author: Far
Belajar disekolah biasanya untuk menuntut ilmu. Tetapi pada prakteknya, ada banyak hal yang mengubah tujuan utama itu, misalnya saja murid yang malas, guru yang tidak kompeten, fasilitas yang kurang mendukung, dll.
Metode pembelajaran di Indonesia yang menurut saya hanya berbasis hasil (asal ujian bagus, pasti lulus), semakin membuat para pelajar lupa akan tujuan utamanya menuntut Ilmu. Akhirnya segala cara dilakukan untuk mendapatkan hasil yang bagus (meskipun caranya itu kurang benar). Misalnya saja: mencontek, menyogok guru, dll.
Pengalaman aku di Binus, banyak juga temen2 aku yang sebenarnya gak mengerti mata kuliah tertentu, tapi bisa mendapat nilai A. Rahasianya ada pada kisi-kisi.
Pertemuan terakhir sebelum ujian biasanya ada oknum-oknum tertentu yang memberikan model soal yang mirip dengan yang akan dikeluarkan saat ujian (kadang bukan mirip aja, malahan bisa sama persis). Dari sana mahasiswa belajar, dan akhirnya bisa lulus dengan nilai baik, walaupun mahasiswa itu sering bolos, gak pernah bikin tugas, gak pernah belajar, dll.
Ada juga temen aku di UI yang dapat nilai bagus karena dosen yang baik hati dan royal dalam memberi nilai. Dosen masuk kelas hanya 3x (awal, UTS,UAS) tugasnya hanya memberi tugas, dan menyuruh mahasiswa belajar sendiri (jadi dosennya gak ngajar dan jarang masuk). Akhirnya mahasiswa jadi gak ngerti materi perkuliahan, sehingga ujian pun jelek hasilnya. Tetapi dalam nilai akhir, dosen itu mengatrol tinggi, sehingga nilai mahasiswanya jadi tinggi.
Sebagai seorang mahasiswa, saya senang-senang aja mendapat nilai bagus. Akan tetapi jika mendapat nilai bagus tanpa mengerti apa yang dipelajari, apakah itu bagus juga?
Langsung ke kasus aja, saat kita melamar kerja, mana yang akan dilihat dulu skill or nilai? Biasanya untuk menyeleksi saringan masuk, yang dilihat pertama adalah nilai. Skill menjadi prioritas yang kesekian. Akhirnya untuk apa Ilmu tinggi jika ilmu itu tidak dihargai.....
