Di Perancis, Carrefour tidak hanya menjual makanan layaknya hypermarket-hypermarket di Indonesia, namun ia juga merambah bisnis perminyakan. Dan di Eropa, harga seliter bensin lebih dari 1 Euro (Rp. 13.000++).

 

Nilai atau Ilmu?

Author: Far

Belajar disekolah biasanya untuk menuntut ilmu. Tetapi pada prakteknya, ada banyak hal yang mengubah tujuan utama itu, misalnya saja murid yang malas, guru yang tidak kompeten, fasilitas yang kurang mendukung, dll.
Metode pembelajaran di Indonesia yang menurut saya hanya berbasis hasil (asal ujian bagus, pasti lulus), semakin membuat para pelajar lupa akan tujuan utamanya menuntut Ilmu. Akhirnya segala cara dilakukan untuk mendapatkan hasil yang bagus (meskipun caranya itu kurang benar). Misalnya saja: mencontek, menyogok guru, dll.

Pengalaman aku di Binus, banyak juga temen2 aku yang sebenarnya gak mengerti mata kuliah tertentu, tapi bisa mendapat nilai A. Rahasianya ada pada kisi-kisi.
Pertemuan terakhir sebelum ujian biasanya ada oknum-oknum tertentu yang memberikan model soal yang mirip dengan yang akan dikeluarkan saat ujian (kadang bukan mirip aja, malahan bisa sama persis). Dari sana mahasiswa belajar, dan akhirnya bisa lulus dengan nilai baik, walaupun mahasiswa itu sering bolos, gak pernah bikin tugas, gak pernah belajar, dll.

Ada juga temen aku di UI yang dapat nilai bagus karena dosen yang baik hati dan royal dalam memberi nilai. Dosen masuk kelas hanya 3x (awal, UTS,UAS) tugasnya hanya memberi tugas, dan menyuruh mahasiswa belajar sendiri (jadi dosennya gak ngajar dan jarang masuk). Akhirnya mahasiswa jadi gak ngerti materi perkuliahan, sehingga ujian pun jelek hasilnya. Tetapi dalam nilai akhir, dosen itu mengatrol tinggi, sehingga nilai mahasiswanya jadi tinggi.

Sebagai seorang mahasiswa, saya senang-senang aja mendapat nilai bagus. Akan tetapi jika mendapat nilai bagus tanpa mengerti apa yang dipelajari, apakah itu bagus juga?
Langsung ke kasus aja, saat kita melamar kerja, mana yang akan dilihat dulu skill or nilai? Biasanya untuk menyeleksi saringan masuk, yang dilihat pertama adalah nilai. Skill menjadi prioritas yang kesekian. Akhirnya untuk apa Ilmu tinggi jika ilmu itu tidak dihargai.....

 

Akhir-akhir ini aku makin kesel dengan proyek pembangunan busway koridor IX. Sebenarnya apa sih kelebihan busway sampai dibela-belain dibikinin jalur khusus segala. Toh itu hanya sebuah bus (yang tetap perlu bahan bakar, supir, dan perlu diservis), kenapa harus dibuat jalan khusus? Terus kenapa hanya bus tranjakarta yang boleh lewat (harusnya bus umum lain boleh lewat juga atuh.. namanya aja busway = jalur bus). Proses pembuatan jalur busway itu juga hingga kini sudah memotong banyak pohon2 hijau yg ada di tengah jalan.

Setelah aku pikir2 busway tidak akan mengatasi masalah kemacetan yang ada di jakarta, malah bisa jadi malah memperparahnya. Bayangkan saja, jalan arteri 3 jalur, diambil 1 jalur. Jadinya pasti terjadi penyempitan dan akan memperparah kemacetan.

Saat ini dimana jalur busway koridor 8,9,10 sedang dibangun, kemacetan parah semakin terlihat di jalan arteri daripada di jalan tol. Kalau di jalan tol biasanya macetnya saat mau masuk / keluar pintu tol.

Duh, makin lama hidup di jakarta makin susah. Kemana-mana macet. Terjebak kemacetan akan menyebabkan kehilangan waktu yang berharga, tenaga yang terkuras (apalagi klo pas macet sambil berdiri di bus umum), dan strees yang semakin tinggi.
Kemacetan ini jika tidak ditangani segera akan menyebabkan kemacetan yang semakin menggila lagi pada tahun-tahun yang akan datang.